Peradaban Cina
Peradaban
Cina adalah beradaban tertua yang hingga sekarang masih bisa dirasakan. Cina
memiliki peran penting dalam perkembangan peradaban dunia. Hal itu bisa dilihat
dari artefak-artefak yang ditinggalkan atau falsafah yang ditinggalkan. Sebagai
salah satu peradaban besar, tentu saja sangatlah perlu untuk mengetahui system
politik, ekonomi dan masyarakat pada masyarakat Cina.
Periodisisa sejarah Cina adalah:
Periodisisa sejarah Cina adalah:
A.
Pemerintahan
Dalam
pemikiran Cina tradisional, jika pemerintah baru bertahan dalam kekuatannya, ia
harus dapat membuktikan amanat dari surga untuk menjadi kaisar baru. Menurut
filsuf dari orang-orang Tao, dulunya dinasti hanya dapat dibuktikan jika
memiliki “mandat dari surga”, dan juga dipercaya dimana mandat dari dinasti
tertentu telah dikeluarkan, hal tersebut akan mengalah pada pemberontak atau
pemberontak istana. Di dalam pemikiran tradisional orang-orang Cina, kerajaan
yang sesungguhnya hanya ada di surga, tetapi tetap yang melaksananakannya
adalah orang-orang di dunia. Efek dari filosofi politik orang-orang Tao adalah
sederhana dan praktis: setiap orang boleh mencoba keberuntungannya dengan
pemberontakan jika dia sangat mengharapkannya. Apabila pemberontakannya gagal,
kemudian yang membuat suatu percobaan dengan jelas tidak memiliki “mandat dari
surga” dan biasanya mereka dieksekusi. Bagaimanapun, seorang pemberontak yang
berhasil diambil sebagai bukti bahwa mandat dari surga benar-benar ada. Hal ini
semata-mata hanyalah nyanyian kesuksesan saja. Setiap orang dapat menjadi
seorang kaisar sepanjang ia dapat mengumpulkan kekuatannya.
Bagi Cina, the family was the state in miniature,
the state the family writ large. Itu sebabnya Max Weber menyebut Cina sebagai
“familistic state”. Penulis melihat bahwa dinasti Han yang lebih setia pada ajaran
Konfusius. Menurut penulis artikel ini, akibat dari paham keluarga Cina yang
ditafsirkan secara berbeda (salah) dengan apa yang dianjurkan oleh Konfuisus
tentang sistem keluarga 3 generasi, Cina pernah mengalami krisis karena
memberlakukan sistem three tyrannies (ruler, the father, and the husband).
Three Tyrannies kemudian berkembang menjadi the three bonds (dalam bahasa Cina,
sangang). The three bonds terdiri dari: relasi rulers-ministers; fathers-sons;
and husbands-wifes. Tetapi rupanya paham ini berkembang lagi menjadi the three
accordances atau three services: minister melayani ruler, anak melayani
bapaknya, dan istri melayani suaminya (jadi tidak resiprokal, hanya pelayanan
searah saja!). para pengagum three services, menganggap ini sumber dari segala
keteratutan. Secara defacto, Paham three services masih sejalan dengan sistem
tradisional Cina yang menekankan filial obligation dan filial piety.
Sistem three services tidak bersifat resiprokal
sebagaimana yang diajarkan oleh Mencius (salah seorang murid Konfuisus).
Mencius mengatakan: jika seorang pangeran merawat para pembantunya seperti
tangan dan kakinya, mereka (para pembantunya) akan merawat pangeran itu seperti
perut dan hati mereka. Jika pangeran merawat para pembantunya seperti kuda dan
anjingnya, mereka akan merawatnya seperti seorang yang gila. Dan, jika seorang
pangeran melihat para pembantunya seperti lumpur dan rerumputan, mereka juga
akan melihat pangeran itu seperti seorang lawan.
Menurut Mencius, Konfusius mengajarkan bahwa
keteraturan sosio-politik terjadi ketika ruler berkelakuan seperti ruler,
minister berkelakuan seperti minister, dan father berkelakukan seperti father
dan son berkelakukan seperti son; menurut Konfusius, hal ini yang ia sebut
sebagai sumber knowledge, etika. Konfusian dari suku Han melihat bahwa Yin-Yang
mengandung sistem resiprokal. Yin diidentikkan dengan minister, son and wife
sedangkan Yang diidentikkan dengan ruler, father, husband. Oleh karena itu,
three bonds bagi suku Han harus dilihat seperti relasi Yin-Yang.
Melihat uraian di atas, jelas bahwa Konfusius
menolak sistem otoriter. Konfusius memberi tekanan pada saling adanya relasi
secara etika dan bukan pada control kekuasaan yang otoriter. Seorang murid
Konfusius, Xunzi mengatakan bahwa jika setiap orang bersikap hormat, tertib,
tanpa cela, menghargai orang lain, saat itulah terjadi bahwa setiap orang
bersaudara. Dalam sistem reciprocity, sistem absolut tidak berlaku. Karena
dalam sistem reciprocity yang ditekankan adalah fleksibilitas, keutamaan
(virtue). Dan, kekuatan relasi yang cocok dalam KBE tidak terletak dalam sistem
kekuasaan absolut (husband, father, and ruler) melainkan pada authority yang
membangun pengetahuan etika.
B.
Bentuk
pemerintahan
Sistem
pemerintahan yang digunakan ketika keakaisan Cina kuno masih berkuasa adalah
sistem pemerintahan yang sentralistik. Sistem sentralistik ini bisa disetarakan
dengan sikap absolutisme monarki. Sehingga dalam pelaksananany timbullah
istilah “semua tanah adalah tanah raja dan semua orang adalah milik raja”.
Dalam pelaksanan
pemerintahn raja juga memabgi tugas-tugas bawahan. Pada masa kekaisaran kaisar
terdapat enam orang bawahan. Enam orang bawahan inilah yang akan melaksanakan
perintah raja. Enam orang itu memiliki tugas: menteri surga, pembuat kebijakan;
menteri bumi, menteri berkenaan dengan pendidikan; menteri musim semi, menteri
berkenaan dengan pengadilan agama; menteri musim panas, meneteri berkenaan
dengan administrasi keseharian; menteri menteri musim gugur, menteri berkenan
dengan penjatuhan hukuman; menteri musim dingin, menteri yang berkenaan dengan
logistik negara, termasuk pembiayaan proyek besar. Tiap menteri memiliki staff
ratusan dari bagian-bagian. Kaisar jug amengontrol enam kekuatan militer,
setiap regional memiliki tiga, dua atu satu yang disesuaikan dengan wilayah.
C.
Kemasyarakatan
Sistem
keluarga Cina dipengaruhi oleh paham kekeluargaan Konfusius. Menurut Olga Lang,
orangtua dalam sistem keluarga Cina berkewajiban mengajari anggota keluarganya
tentang mekanisme Negara agar mereka bisa menerima ororitas Negara. Lucian Pye
melihat bahwa kultur politik Cina menekankan interpendensi antara pemerintah
dan keluarga. Karena, dalam masyarakat tradisional Cina, keluarga berperan
untuk mengurangi kekacauan dalam institusi-institusi public, orangtua selalu
menekankan order sosial dan kesejahteraan setiap anggota keluarga.
Relationship merupakan motor penggerak dalam politik
ideologi kekeluargaan Cina. Implikasi politik dari sistem ini adalah bahwa
dalam membangun ekonomi Cina, yang ditekankan adalah jaringan, relasi (untuk
saling menolong). Kinship networks (jaringan kekeluargaan), menjadi pilar
paradigma baru dalam kerangka kerja ekonomi Cina. Selain itu, yang
mengakibatkan Cina mampu menguasai perekonomian secara global adalah etos kerja
yang menekankan keuletan dan kerajinan. Ada tiga penjelasan etos kerja.
Pertama, dalam sistem keluarga Cina, etos kerja telah ditanamkan kepada anak-anak sejak kecil. Bagi Cina, kerja dihubungkan dengan kumpulan nilai yang kompleks, yang mencakup pengorbanan diri, rasa percaya, dan hemat yang dipandang sebagai dasar terakumulasinya kekayaan.
Pertama, dalam sistem keluarga Cina, etos kerja telah ditanamkan kepada anak-anak sejak kecil. Bagi Cina, kerja dihubungkan dengan kumpulan nilai yang kompleks, yang mencakup pengorbanan diri, rasa percaya, dan hemat yang dipandang sebagai dasar terakumulasinya kekayaan.
Kedua, etos kerja Cina berorientasi kelompok. Setiap
individu berpartisipasi dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga, kemudian
untuk kesejahteraan masyarakat.
Ketiga, orang Cina bekerja keras untuk mendapatkan imbalan materi. Dalam komunitas Cina perantauan (seperti di Singapura), kemakmuran, kenyamanan, dalam usia lanjut, menduduki posisi sentral dalam persepsi Cina tentang kehidupan yang baik.
Ketiga, orang Cina bekerja keras untuk mendapatkan imbalan materi. Dalam komunitas Cina perantauan (seperti di Singapura), kemakmuran, kenyamanan, dalam usia lanjut, menduduki posisi sentral dalam persepsi Cina tentang kehidupan yang baik.
Awalnya, bentuk ideal Cina adalah joint family:
membangun ikatan kekeluargaan yang terdiri dari lima keturunan yang hidup
secara bersama-sama dalam satu atap, sharing bersama, satu dapur bersama,
saling berbagi keuntungan serta saling membantu, yang dikendalikan oleh seorang
kepala keluarga. Pemerintah kekaisaran Cina tradisonal mengadopsi sistem
kekeluargaan ini menjadi bentuk ideal untuk mencapai harmoni dalam sistem
pemerintah. Tetapi secara defacto, sistem kekeluargaan yang dikendalikan oleh
seorang kepala keluarga dan pemerintahan yang dikendalikan oleh monarkhi,
mengakibatkan Cina terjerumus dalam sistem kekeluargaan dan pemerintahan yang
sangat feodal (dan hal ini bertolak belakang dengan visi Konfusius yang selalu
menekankan dimensi etika dalam menjalankan otoritas). Baru pada zaman dinasti
Ming, sistem keperintahan yang feodal lamban laun mulai ditinggalkan. Sistem
keluarga a la Konfusian menekankan etika kesalehan, sopan santun, keutamaan,
menghargai orang lain. Pada abad 20-an, yang berkembang di dalam masyarakat
Cina justru nuclear family (keluarga inti) dan stem family.
Kedua sistem kekeluargaan ini membangun jaringan
kekeluargaan (kinship networks) yang lebih luas, tidak semata-mata secara
bilogis tetapi jaringan kekeluargaan atas dasar kebajikan-etika. Banyaknya
anggota keluarga dalam satu atap pun berkurang. Karena pada era itu, sistem
yang cocok dengan bentuk ideal keluarga Cina (menurut kaum terpelajar
Konfusian) adalah sistem 3 generasi (orangtua, anak, dan kakek-nenek).
Pemerintah Singapura mempromosikan sistem 3 generasi ini dengan membangun rumah
bagi mereka yang baru menikah dan ingin tinggal bersama dalam sistem 3
generasi.
Hubungan antara tiga dan lima keluarga a la
Konfusian merupakan kunci relasi-relasi: ayah-anak, suami-istri, adik-kakak
(sistem 3 generasi) dan sistem 5 generasi (ayah-anak, suami-istri, adik-kakak,
kakek-cucu lelaki, dan paman-kemenakan lelaki). Konfusian lebih condong pada
sistem 3 generasi. Bagi Konfusius, relasi antara ayah-anak, suami istri dan
adik-kakak, seharusnya seperti itu relasi yang dibangun oleh aparat pemerintah
(relasi kaisar-menteri, relasi menteri-rakyat, relasi kaisar-rakyat). Paham
kekeluargaan Konfusian menekankan relationship atas dasar etika bukan relasi
secara bilogis. Menurut Konfusius, walaupun hidup dalam satu atap, sharing
secara bersama-sama belum tentu terbangun rasa solidaritas tanpa disertai sikap
yang didasarkan pada moralitas (keutamaan).
Walaupun Konfusius menawarkan sistem kekeluargaan
yang berbasis pada moralitas tetapi rupa-rupanya, masyarakat Cina ada yang
menafsir ajaran Konfusius menjadi sangat kaku. Hal itu terjadi (misalnya)
ketika orang Cina mengidentikkan family dengan jia. Jia adalah kepala keluarga
yang bersifat otoriter, segalanya dia yang menentukan. Ajaran tentang jia yang
menggiring Cina ke sistem tradisional keluarga yang subordinasi. Ketika seorang
kaisar atau pemerintah memberlakukan paham ini dalam sistem keperintahan-an,
saat itu Cina terperangkap dalam sistem pemerintah yang tirani, otoriter;
sehingga demokrasi sulit mendapat tempat. Oleh karena itu, W. J. F. Jenner
menyebut the Chinese family sebagai sebuah struktur yang otoiter.
D. Ekonomi
Ekonomi Cina dibangun berdasarkan ekonomi agrarian. Ekonomi agrarioa
tyang memiliki system feodalistik. Sistem bahwa penguasaan tanah memiliki
peranan penting.
Pentingnya pertanian bagi Cina telah membawa perubahan pada sisitem
teknologi pertanian juga. Sisitem pertanian yang diterapkan Cina pada waktu itu
telah mengenal adanya sistem irigasi, rotasi tanaman pertanian, dan penggunaan
hewan sebagai alat pertanian.
Cina juga tidak tergantung pada pertanian saja, namun telah mengembangkan
hasil peternakan. Peternakan yang berkemabng dicina meliputi peternakan domba,
kambing dan sapi. Selain adanya binatang ternak setiap penduduk juga memilki
hewan untuk dipelihara, seperti lembu janta, babi dan ayam. Perekonomian Cina
juag dibantu dengan adanya perburuan yang dilakukan penduduk.
Tidak hanya pertanian, Cina juga mengembangkan sistem perdagangan dengan
dunia luar. Cina telah menjalin hubungan dagang pertama kali dengan melakuakn
transaksi di sekitar Cina bagian utara dan laut Cina selatan. Perdagang yang
dilakuakn berupa perdagangan besi, timah, cangkang penyu, dan produk kerajinan
tangan. Dengan adanya perdagangan maka terjadilah pekembangan teknologi
peleburan besi, munculnya kota-kota dagang, dan penggunaan uang.
E. Dinasti
pada peradaban Cina
1.
Dinasti Xia (2100 SM-1600 SM)
Dinasti Xia adalah dinasti pertama yang diceritakan dalam
catatan sejarah seperti Catatan Sejarah Agung dan Sejarah Bambu.
Dinasti ini didirikan oleh Yu yang Agung. Sebagian besar arkeolog sekarang menghubungkan
Dinasti Xia dengan hasil-hasil ekskavasi di Erlitou, provinsi Henan, yang berupa temuan
perunggu leburan dari sekitar tahun 2000 SM. Beragam tanda-tanda yang terdapat
pada tembikar dan kulit kerang yang ditemukan pada periode ini, diduga adalah
bentuk pendahulu dari aksara moderen Cina.
Menurut kronogi tradisional berdasarkan perhitungan Liu Xin,
dinasti ini berkuasa antara 2205 SM sampai 1766 SM, sedangkan menurut Sejarah
Bambu, pemerintahan dinasti ini adalah antara 1989 SM dan 1558 SM. Menurut Proyek Kronologi Xia Shang Zhou yang
diselenggarakan oleh pemerintah Republik Rakyat Cina pada tahun 1996, dinasti ini berkuasa
antara 2070 SM hingga 1600 SM.
2. Dinasti
Shang (1600 SM-1046 SM)
Dinasti Shang
menurut sumber tradisional adalah dinasti pertama Cina. Menurut kronologi
berdasarkan perhitungan Liu Xin, dinasti ini
berkuasa antara 1766 SM
dan 1122 SM,
sedangkan menurut Sejarah Bambu
adalah antara 1556 SM
dan 1046 SM.
Hasil dari Proyek
Kronologi Xia Shang Zhou pemerintah Republik Rakyat Cina
pada tahun 1996 menyimpulkan bahwa dinasti ini memerintah antara
1600 SM
sampai 1046 SM.
Informasi langsung tentang dinasti ini berasal dari inskripsi pada artefak perunggu dan tulang orakel, serta dari Catatan Sejarah Agung
(Shiji) karya Sima Qian.
Temuan arkeologi memberikan bukti keberadaan Dinasti Shang sekitar 1600-1046 SM,
yang terbagi menjadi dua periode. Bukti keberadaan Dinasti Shang periode awal
(k. 1600-1300 SM) berasal dari penemuan-penemuan di Erlitou, Zhengzhou dan Shangcheng. Sedangkan bukti
keberadaan Dinasti Shang periode kedua (k. 1300–1046 SM) atau periode Yin (殷), berasal dari kumpulan besar tulisan pada tulang orakel. Para arkeolog mengkonfirmasikan
bahwa kota Anyang di provinsi Henan adalah ibukota terakhir
Dinasti Shang,[19] dari sembilan ibukota lainnya.
Dinasti Shang diperintah 31 orang raja, sejak Raja Tang sampai dengan Raja
Zhou sebagai raja terakhir. Masyarakat Cina masa ini mempercayai
banyak dewa, antara lain dewa-dewa cuaca dan langit, serta dewa tertinggi yang
dinamakan Shang-Ti. Mereka juga percaya bahwa nenek moyang mereka, termasuk
orang tua dan kakek-nenek mereka, setelah meninggal akan menjadi seperti dewa pula
dan layak disembah. Sekitar tahun 1500 SM, orang Cina mulai menggunakan tulang orakel untuk memprediksi masa depan.
Para ilmuwan Barat cenderung ragu-ragu untuk
menghubungkan berbagai permukiman yang sezaman dengan pemukiman Anyang sebagai
bagian dari dinasti Shang.[22] Hipotesa terkuat ialah telah
terjadinya ko-eksistensi antara Anyang yang diperintah oleh Dinasti Shang,
dengan pemukiman-pemukiman berbudaya lain di wilayah yang sekarang dikenal
sebagai "Cina sebenarnya" (China proper)
3. Dinasti
Zhou (1046 SM–256 SM)
Dinasti Zhou adalah
dinasti terlama berkuasa dalam sejarah Cina yang menurut Proyek
Kronologi Xia Shang Zhou berkuasa antara 1046 SM
hingga 256 SM. Dinasti ini mulai tumbuh dari lembah Sungai Kuning, di sebelah barat Shang. Penguasa Zhou, Wu Wang, berhasil mengalahkan Shang pada Pertempuran Muye. Pada masa Dinasti Zhou
mulailah dikenal konsep "Mandat Langit" sebagai legitimasi pergantian
kekuasaan,[23] dan konsep ini seterusnya berpengaruh
pada hampir setiap pergantian dinasti di Cina. Ibukota Zhou awalnya berada di
wilayah barat, yaitu dekat kota Xi'an moderen sekarang,
namun kemudian terjadi serangkaian ekpansi ke arah lembah Sungai Yangtze. Dalam sejarah Cina, ini menjadi
awal dari migrasi-migrasi penduduk selanjutnya dari utara ke selatan.
v
Periode Musim
Semi dan Musim Gugur (722 SM-476 SM)
Pada sekitar abad ke-8 SM, terjadi desentralisasi kekuasaan pada Periode
Musim Semi dan Musim Gugur, yang diberi nama berdasarkan karya
sastra Chun Qiu (Musim Semi dan Gugur). Pada zaman
ini, pimpinan militer lokal yang digunakan Zhou mulai menunjukkan kekuasaannya dan
berlomba-lomba memperoleh hegemoni. Invasi dari barat
laut, misalnya oleh Qin, memaksa Zhou
untuk memindahkan ibu kotanya ke timur, yaitu ke Luoyang. Ini menandai fase kedua Dinasti Zhou:
Zhou Timur. Ratusan negara bermunculan, beberapa di antaranya hanya seluas satu
desa, dengan penguasa setempat memegang kekuasaan politik penuh dan kadang
menggunakan gelar kehormatan bagi dirinya. Seratus Aliran
Pemikiran dari filsafat Cina
berkembang pada zaman ini, berikut juga beberapa gerakan intelektual
berpengaruh seperti Konfusianisme, Taoisme, Legalisme, dan Mohisme.
v
Periode Negara
Perang (476 SM-221 SM)
Setelah berbagai konsolidasi politik, tujuh negara
terkemuka bertahan pada akhir abad ke-5 SM. Meskipun saat itu masih terdapat
raja dari Dinasti Zhou sampai
256 SM, namun ia hanya seorang pemimpin nominal yang tidak memiliki kekuasaan
yang nyata. Pada masa itu, daerah tetangga dari negara-negara yang berperang
juga ditaklukkan dan menjadi wilayah baru, antara lain Sichuan dan Liaoning; yang
kemudian diatur di bawah sistem administrasi lokal
baru berupa commandery dan prefektur (郡县/郡县). Negara Qin berhasil menyatukan ketujuh negara yang ada,
serta melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah Zhejiang, Fujian, Guangdong, dan Guangxi pada 214 SM.[25] Periode saat negara-negara saling
berperang hingga penyatuan seluruh Cina oleh Dinasti Qin pada tahun 221 SM, dikenal dengan nama "Periode Negara Perang",
yaitu penamaan yang diambil dari nama karya sejarah Zhan Guo Ce (Strategi Negara Berperang)
4. Dinasti
Qin (221 SM–206 SM)
Dinasti Qin berhasil menyatukan Cina yang terpecah
menjadi beberapa kerajaan pada Periode Negara Perang
melalui serangkaian penaklukan terhadap kerajaan-kerajaan lain, dengan
penaklukan terakhir adalah terhadap kerajaan Qi pada sekitar tahun 221 SM. Qin Shi Huang dinobatkan menjadi kaisar pertama
Cina bersatu pada tahun tersebut. Dinasti ini terkenal mengawali pembangunan Tembok Besar Cina yang belakangan diselesaikan
oleh Dinasti Ming serta peninggalan Terakota di makam Qin Shi Huang.
Beberapa kontribusi besar Dinasti Qin, antara
termasuk terbentuknya konsep pemerintahan terpusat, penyatuan undang-undang
hukum, diterapkannya bahasa tertulis, satuan pengukuran, dan mata uang bersama
seluruh Cina, setelah berlalunya masa-masa kesengsaraan pada Zaman Musim Semi
dan Gugur. Bahkan hal-hal yang mendasar seperti panjangnya as roda untuk gerobak dagang, saat itu mengalami penyeragaman
demi menjamin berkembangnya sistem perdagangan yang baik di seluruh kekaisaran.
5. Dinasti
Han (206 SM–220)
Dinasti Han didirikan oleh Liu Bang, seorang petani yang memimpin
pemberontakan rakyat dan meruntuhkan dinasti sebelumnya, Dinasti Qin, pada tahun 206 SM. Zaman kekuasaan Dinasti Han terbagi
menjadi dua periode yaitu Dinasti Han Barat (206 SM - 9)
dan Dinasti Han Timur
(23
- 220)
yang dipisahkan oleh periode pendek Dinasti Xin (9 - 23).
Kaisar Wu (Han Wudi 漢武帝/汉武帝) berhasil
mengeratkan persatuan dan memperluas kekaisaran Cina dengan mendesak bangsa
Xiongnu (sering disamakan dengan bangsa Hun)
ke arah stepa-stepa Mongolia Dalam,
dengan demikian merebut wilayah-wilayah Gansu,
Ningxia, dan Qinghai. Hal tersebut menyebabkan terbukanya
untuk pertama kali perdagangan antara Cina dan Eropa, melalui Jalur Sutra. Jenderal Ban Chao dari Dinasti Han
bahkan memperluas penaklukannya melintasi pegunungan Pamir sampi ke Laut Kaspia. Kedutaan pertama dari Kekaisaran Romawi tercatat pada sumber-sumber
Cina pertama kali dibuka (melalui jalur laut) pada tahun 166, dan yang kedua
pada tahun 284.
v Zaman Tiga Negara (220–280)
Zaman Tiga Negara (Wei, Wu, dan Shu) adalah suatu periode perpecahan Cina yang
berlangsung setelah hilangnya kekuasaan de facto Dinasti Han. Secara umum periode ini dianggap
berlangsung sejak pendirian Wei (220)
hingga penaklukan Wu oleh Dinasti Jin
(280),
walau banyak sejarawan Cina yang menganggap bahwa periode ini berlangsung sejak
Pemberontakan
Serban Kuning (184).
6. Dinasti
Jin dan Enam Belas Negara (280-420)
Cina berhasil dipersatukan sementara pada tahun 280
oleh Dinasti Jin.
Meskipun demikian, kelompok etnis di luar suku Han (Wu Hu) masih menguasai sebagian besar wilayah pada awal abad ke-4 dan menyebabkan migrasi besar-besaran
suku Han ke selatan Sungai Yangtze.
Bagian utara Cina terpecah menjadi negara-negara kecil yang membentuk suatu era
turbulen yang dikenal dengan Zaman Enam Belas
Negara (304 - 469).
7. Dinasti
Utara dan Selatan (420–589)
Menyusul keruntuhan Dinasti Jin Timur pada tahun 420,
Cina memasuki era Dinasti Utara dan
Selatan. Zaman ini merupakan masa perang saudara dan perpecahan politik, walaupun
juga merupakan masa berkembangnya seni dan budaya, kemajuan teknologi, serta penyebaran Agama Buddha dan Taoisme.
8. Dinasti
Sui (589–618)
Setelah hampir empat abad perpecahan, Dinasti Sui berhasil mempersatukan kembali Cina
pada tahun 589 dengan penaklukan Yang Jian, pendiri Dinasti Sui, terhadap Dinasti Chen di selatan. Periode kekuasaan
dinasti ini antara lain ditandai dengan pembangunan Terusan Besar Cina
dan pembentukan banyak lembaga pemerintahan yang nantinya akan diadopsi oleh Dinasti Tang.
9. Dinasti
Tang (618–907)
Pada 18 Juni 618,
Li Yuan naik tahta dan memulai era Dinasti Tang yang menggantikan Dinasti Sui. Zaman ini merupakan masa kemakmuran
dan perkembangan seni dan teknologi Cina. Agama Buddha menjadi agama utama yang dianut
oleh keluarga kerajaan serta rakyat kebanyakan. Sejak sekitar tahun 860,
Dinasti Tang mulai mengalami kemunduran karena munculnya
pemberontakan-pemberontakan.
v Lima Dinasti dan Sepuluh Negara
(907–960)
Antara tahun 907
sampai 960, sejak runtuhnya Dinasti Tang sampai berkuasanya Dinasti Song, terjadi suatu periode perpecahan
politik yang dikenal sebagai Zaman
Lima Dinasti dan Sepuluh Negara. Pada masa yang cukup singkat ini,
lima dinasti (Liang, Tang, Jin, Han, dan Zhou) secara bergantian menguasai
jantung wilayah kerajaan lama di utara Cina. Pada saat yang bersamaan, sepuluh
negara kecil lain (Wu, Wuyue, Min, Nanping, Chu, Tang Selatan, Han Selatan, Han
Utara, Shu Awal, dan Shu Akhir) berkuasa di selatan dan barat Cina.
10. Dinasti
Song, Liao, Jin, serta Xia Barat (960-1279)
Antara tahun 960
hingga 1279, Cina dikuasai oleh beberapa dinasti. Pada tahun 960, Dinasti Song (960-1279) yang beribu kota di Kaifeng menguasai sebagian besar Cina dan
mengawali suatu periode kesejahteraan ekonomi. Wilayah Manchuria (sekarang dikenal dengan Mongolia) dikuasai oleh Dinasti Liao (907-1125)
yang selanjutnya digantikan oleh Dinasti Jin
(1115-1234). Sementara itu, wilayah barat laut Cina
yang sekarang dikenal dengan provinsi-provinsi Gansu,
Shaanxi, dan Ningxia dikuasai oleh Dinasti Xia Barat antara tahun 1032
hingga 1227.
11. Dinasti Yuan (1279–1368)
Antara tahun 1279
hingga tahun 1368, Cina dikuasai oleh Dinasti Yuan yang berasal dari Mongolia dan didirikan oleh Kublai Khan. Dinasti ini menguasai Cina setelah
berhasil meruntuhkan Dinasti Jin
di utara sebelum bergerak ke selatan dan mengakhiri kekuasaan Dinasti Song. Dinasti ini adalah dinasti pertama
yang memerintah seluruh Cina dari ibu kota Beijing.Sebelum invasi bangsa Mongol, laporan dari dinasti-dinasti Cina
memperkirakan terdapat sekitar 120 juta penduduk; namun setelah penaklukan
selesai secara menyeluruh pada tahun 1279, sensus tahun 1300 menyebutkan bahwa
terdapat 60 juta penduduk.[28] Demikian pula pada pemerintahan
Dinasti Yuan terjadi epidemi abad ke-14 berupa wabah penyakit pes (Kematian Hitam), dan diperkirakan telah
menewaskan 30% populasi Cina saat itu.
12. Dinasti Ming (1368–1644)
Sepanjang masa kekuasaan Dinasti Yuan, terjadi penentangan yang cukup
kuat terhadap kekuasaan asing ini di kalangan masyarakat. Sentimen ini,
ditambah sering timbulnya bencana alam sejak 1340-an, akhirnya menimbulkan pemberontakan petani
yang menumbangkan kekuasaan Dinasti Yuan. Zhu Yuanzhang dari suku Han mendirikan Dinasti Ming setelah berhasil mengusir Dinasti
Yuan pada tahun 1368.
Tahun 1449, Esen Tayisi dari bangsa Mongol Oirat
melakukan penyerangan ke wilayah Cina utara, dan bahkan sampai berhasil menawan
Kaisar Zhengtong di Tumu. Tahun 1542, Altan Khan
memimpin bangsa Mongol terus-menerus mengganggu perbatasan utara Cina, dan pada
tahun 1550 ia berhasil menyerang sampai ke pinggiran kota Beijing. Kekaisaran
Dinasti Ming juga menghadapi serangan bajak laut Jepang di sepanjang garis
pantai tenggara Cina; peranan Jenderal Qi Jiguang sangat penting dalam mengalahkan
serangan bajak laut tersebut. Suatu gempa bumi terdasyat di dunia, gempa bumi Shaanxi
tahun 1556, diperkirakan telah menewaskan sekitar 830.000 penduduk, yang
terjadi pada masa pemerintahan Kaisar Jiajing.
Selama masa Dinasti Ming, pembangunan terakhir Tembok Besar Cina selesai dilaksanakan, sebagai
usaha perlindungan bagi Cina atas invasi dari bangsa-bangsa asing. Meskipun
pembangunannya telah dimulai pada masa sebelumnya, sesungguhnya sebagian besar
tembok yang terlihat saat ini adalah yang telah dibangun atau diperbaiki oleh
Dinasti Ming. Bangunan bata dan granit telah diperluas, menara pengawas
dirancang-ulang, serta meriam-meriam ditempatkan di sepanjang sisinya.
13. Dinasti Qing (1644–1911)
Dinasti Qing (清朝, 1644–1911)
didirikan menyusul kekalahan Dinasti Ming, dinasti
terakhir Han Cina, oleh suku Manchu (滿族,满族) dari sebelah timur laut Cina pada tahun 1644.
Dinasti ini merupakan dinasti feodal terakhir yang memerintah Cina.
Diperkirakan sekitar 25 juta penduduk tewas dalam periode penaklukan Manchu
atas Dinasti Ming (1616-1644).[32] Bangsa Manchu kemudian mengadopsi
nilai-nilai Konfusianisme dalam pemerintahan
mereka, sebagaimana tradisi yang dilaksanakan oleh pemerintahan dinasti-dinasti
pribumi Cina sebelumnya.
Pada Pemberontakan Taiping
(1851–1864), sepertiga wilayah Cina sempat jatuh dalam kekuasaan Taiping
Tianguo, suatu gerakan keagamaan kuasi-Kristen yang dipimpin Hong Xiuquan yang menyebut dirinya "Raja
Langit". Setelah empat belas tahun, barulah pemberontakan tersebut
berhasil dipadamkan, tentara Taiping dihancurkan dalam Perang Nanking Ketiga
tahun 1864. Kematian yang terjadi selama 15 tahun pemberontakan tersebut
diperkirakan mencapai 20 juta penduduk.[33]
Beberapa pemberontakan yang memakan korban jiwa dan
harta yang lebih besar kemudian terjadi, yaitu Perang Suku Punti-Hakka,
Pemberontakan Nien, Pemberontakan Minoritas Hui, Pemberontakan Panthay, dan Pemberontakan Boxer.[34] Dalam banyak hal,
pemberontakan-pemberontakan tersebut dan perjanjian tidak adil
yang berhasil dipaksakan oleh kekuatan imperialis asing terhadap Dinasti Qing,
merupakan tanda-tanda ketidakmampuan Dinasti Qing dalam menghadapi
tantangan-tantangan baru yang muncul di abad ke-19.
PERADABAN
INDIA
Keadaan geografis
Daerah
India merupakan suatu jazirah benua Asia yang disebut dengan anak
benua.Disebelah utara daerah India terbentang pegunungan Himalaya yang menjadi
pemisah antara india dan daerah-daerah lain di Asia.
Antara pegunungan Himalaya dan Hindu Kush
terdapat celah Kaiber. Celah kaiber inilah yang dilalui masyarakat India untuk
melakukan aktivitashubugan dengan daerah-daerah lain di Asia.
Melalui celah itu bangsa-bangsa lain
memasuki wilayah India seperti bangsa
Aria, Laskar Cyrus Agung, Iskandar Zulkarnaen dan Timur Lenk.
Di tengah-temgah daerah India terdapat pegunungan Windya.
Pegunungan ini membagi India menjadi dua bagian : India utara dan India
selatan.
Pada daerah India bagian utara mengalir mengalir sungai
Shindu (Indus), Gangga, Ymuna, dan Brahmaputera. Daerah itu merupakan daerah
subur sehingga sangat padat penduduknya.
India bagian selatan sangat berbeda
keadaannya dengan India bagian utara. Daerahnya terdiridari bekit-bukit dan
gunung-gunung yang kering dan tandus. Dataran tinggi di daerah India bagian
selatan diberi nama dataran tinggi Dekkan. Dataran tinggi Dekkan kurang
mendapat hujan sehingga daerahnya terdiri atas padang rumput savanna yang amat
luas.
1. Peradaban lembah sungai indus
a. Pusat peradaban
Kota mahenjo-daro di perkirakan sebagai pusat ibu kota daerah sungai
shindu bagian selatan dan kota harappah sebagai ibu kota lembah sungai Shindu
bagian utara. Mahenjo-daro dan
Harappah merupakan pusat peradaban bangsa India pada masa lampau.
b.
Tata Kota
Pembangunan kota Mohenjo-daro
dan Harappah didasarkan atas suatu perencanaan tata kota yang pasti dan teratur
baik. Jalan-jalan di dalam kota sudah teratur dan lupus-lurus dengan lebarnya
mencapai sekitar 10 m dan disebelah kanan kiri jalan terdapat trotoar dengan
lebar setengah meter. Gedung-gedung dan rumah tinggal serta pertokoan di bangun
secara teratur dan berdiri kokoh. Gedung-gedung, dan rumah tingla dan pertokoan
itu sudah terbuat dari batu bata lumpur.
Wilayah
kota dibagi atas beberapa bagian atau blok. Masing-masing bagian atau blok
berbentuk bujur sangrar atau empat perseguí panjang. Tiap-rtiap blok dibagi
oleh lorong-lorong yang satu sama lain nya saling berpotongan. Dan juga
dibangun gedung-gedung sebagai tempat untuk menjalankan pemerintahan.
Lorong-lorong dan jalan-jalan dilengkapi dengan saluran air, sebagai tempat
menyalurkan air dari rumah tangga ke sungai. Saluran-saluran itu divaga dengan
baik kebersihannya sehingga tetap berfungsi dengan baik.
c.
Kesehatan
Teknik-teknik atau cara-cara
pembangunan rumah yang telah memperhatikan factor-faktor kesehatan dan
kebersihan lingkungan. Kamar-kamar dilengkapi dengan jendela-jendela yang lebar
dan berhubungan langsung dengan udara bebas, sehingga perputaran dan pergantian
udara cukup lancar. Disamping itu, saluran pembuangan limbah dari kamar mandi
dan jamban yang ada didalam rumah dihubungkan langsung dengan jaringan saluran
umum yang dibangun dan mengalir di bawah jalan, dimana pada setiap lorong
terdapat saluran air menuju ke sungai.
d.
Sistem pertanian dan pengairan
Daerah-daerah yang berada di
sepanjang lembah sungai shindu merupakan daerah-daerah yang subur. Di sepanjang
lembah sungai shindu itu, mastyarakat mengusahakan pertanian, sehingga pertanian
menjadi mata pencaharian utama masyarakat India. Pada perkembangan selanjutnya,
masyarakat telah berhasil menyalurkan air yang mengalir di lembah sungai Shindu
sampai jauh ke daerah pedalaman. Usaha ini dilakukan dengan cara membuat
saluran-saluran irigasi dan mulai membangun daerah pertanian diwilayah
pedalaman.
Pembuatan
saluran irigasi dan pembangunan daerah-daerah pertanian menunjukan bahwa
masyarakat lembah sungai shindu telah memiliki peradaban yang tinggi.
Hasil-hasil pertanian utamanya adalh : padi, gandul, gula, jelai, kapas, dan
teh.
e.
Tegnologi
Mereka telah mampu membuat
barang-barang terbuat dari emas dan perak, alat-alat rumah tangga, alat-alat
pertanian, kain dari kapas, serta bangunan-bangunan. Kemampuan ini dapat
diketahui melalui peninggalan-peninggalan budaza yang ditemukan, seperti
bangunan kota Mohenjo-daro dan Harappah berbagai macam patung, perhiasan emas
perak, dan berbagai macam materi dengan lukisannya bermutu tinggi.
Juga di temukan alat-alat peperangan
seperti tombak, pedang, dan anak panah. Disamping itu, ditemukan juga alat-alat
peninggalan budaya berupa barang-barang dari tanah liat, terutama peralatan
rumah tangga.
f.
Perekonomian
Masyarakat lembah sungai
shindu sudah mengadakan hubungan dagang dengan bangsa sumeria di mesopotamia
dan bangsa-bangsa dari negeri-negeri lainnya. Hal itu di buktikan dengan
penemuan benda-benda dari lembah sungai shindu di sumeria.
Kota
sutkagedon memainkan peranan penting dalam perdagangan antara lembah sungai
shindu dan bangsa sumeria. Kota sutkagedon merupakan kota perbatasan yang
terletak di balukhistan. Perdagangan sumeria melalui sutkagedon dapat di
lakukan dengan 2 cara yang pertama dengan jalan laut dapat dibuktikan melalui
sebuah material dan pecahan benda-benda yang memuat gambar perahu layar. Kedua
dengan jalan darat yang dapat dilaksanakan baik dengan mempergunakan tenaga
kuda maupun unta. Hal ini di buktikan dengan di temukannya terracotta kereta
kecil ( Teracotta = tanah liat yang dibakar )
g.
Pemerintahan
v
Candra Gupta Maurya
Candra Gupta Maurya menjadi raja pertama
kerajaan Maurya pada masa pemerintahannya, daerah kekuasaan kerajaan Maurya
diperluas kearah timur, sehingga sebagian besar daerah India bagian utara
menjadi bagian dari kekuasaannya. Dalam waktu singkat, daerah kerajaan Maurya,
sudah mencapai daerah sangat luas, yaitu daerah Kashmir di sebelah barat dan
lembah sungai Gangga di sebelah timur.
v
Ashoka
Pada masa pemerintahan Ashoka ( 268 – 232
SM ) cucu Candra Gupta Maurya, kerajaan Maurya mengalami masa yang gemilang.
Kalingga dan Dekkan berhasil dikuasai namun setelah ia menyaksikan korban
bencana perang yang maha dahsyat di Kalingga, timbul penyesalan. Sejak saat itu
ia tidak lagi melakukan peperangan, bahkan ia mencita-citakan perdamaian dan
kebahagiaan umat manusia.
Setelah Shoka
meninggal kerajaannya terpecah belah menjadi kerajaan kecil. Peperangan sering
terjadi dan baru abad ke 4 masehi muncul seorang raja yang berhasil
mempersatukan kerajaan yang terpecah belah itu. Maka berdiri kerajaan Gupta
dengan Candra Gupta I sebagai raja nya.
- Kepercayaan
Kepercayaan Masyarakat lembah sungai
Shindu bersifat Polytheisme (memuja banyak dewa). Dewa-dewa yang di pujanya
seperti Dewa bertanduk Besar, dan Dewa perempuan yang melambangkan kemakmuran
serta kesuburan (Dewi Ibu).
Masyarakat lembah sungai shindu juga
menyembah binatang-binatang seperti buaya, gajah dll, serta menyembah pepohonan
seperti pohon pipal (beringin). Pemujaan tersebut dilakukan sebagai tanda
terimakasih terhadap kehidupan yang dinikmatinya berupa kesejahteraan dan perdamaian.
- Peninggalan Kebudayaan
Dari hasil galian di kota Harappah di
temukan beberapa arca yang masih sempurna bentuknya dan dua buah torso (arca
yang telah hilang kepalanya). Salah satu torso mula-mula bertangan empat dan
berkepala tiga. Berdiri diatas kaki kanan dan kaki kiri terangkat (patung ini
mirip dengan patung shiwa Nataraya dari
zaman kesenian cola, India selatan).
v
Arca
Di kota Mohenjo-daro di temukan arca
seorang pendeta berjanggut. Arca ini memakai pita yang melingkari kepalanya dan
berpakaian baju yang berhias gambar-gambar yang menyerupai daun semanggi.
Hiasan dengan daun semanggi juga lazim di pakai di daerah Mesopotamia, Mesir,
dan Kreta. Arca yang lain ditemukan berbentuk gadis penari yang terbuat dari
perunggu.
v
Alat-alat rumah tangga
Masyarakat lembah sungai shindu telah
mengenal teknik perundagian. Peralatan-peralatan rumah tangga dan sensata telah terbuat dari benda-benda
logam seperti perunggu. Pengetahuan teknik perundagian itu tidak dikenal oleh
setiap orang sehingga untuk mewndapatkan benda-benda tersebut muncul sistem
perekonomian.
2.
Peradaban Lembah sungai Gangga
a. Pusat peradaban
Lembah sungai Gangaga terletak di antara
pegunungan Hmalaya dan pegunungan
Widya-Kedna. Sungai itu bermata air di gunung Himalaya dan melalui kota-kota besar
seprti Delkhi, Arga, Allhabad, Petna, Benares,melalui wilayah Bangladesh dan
bermuara di teluk Benggala. Sungai Gangga bertemu dengan sungai Kwen Lu. Dengan keadaan alam seperti ini
tidak heran bila lembah sungau Gangga sangat subur.
Pendukung
operadsaban sungai Gangga adalah bangsa Ariua yang termasuk bangsa Indo German.
Mereka datang dari daerah Kaukaqsus dan menyebar kearah timur. Kebudayaan
sungai Gangga merupakan kebudayaan campuran antara Kebudayaan bangsaAria dengan
bangsaa Dravida,. Kebuidayaan campuran itu lebih di kenal dengan sebutan
kebudayaan Hindu. Hal ini di sesuaikan dengan nama daerah tempat bercampurnya
kebudayaan, yaitu : daerah Shindu atau Hoindustan.
Peradaban lembah Sungai Gangga meninggal
jejak yang sangat penting dalam sejarah umat manusia hingga kini. Di tempat ini
muncul dua agama besa di dunia, yaitu Agama Hindu dan Budha.ahgama Hindu muncul
lebih dahulu dari pada agama Budha. Agama Hindu lahir dari kebudayaan campuraan
bangasa Aria dan Dravida itu. Bahkan peradaban dan kehidupan bangsa Hindu
tersebut tercampur dalam kitab suci agama Hindu, yaitu kitab Weda, Brahmana,
dan Upaniiat. Agama Hindu merupakan perwujudan dari sistem kepercayaan
peradaban bangsa Hindu. Sungai Gnnga di angga sebagai tempat keramat dan suci
bagi penganut agama Hindu India. Air sungai Gangga dapatr menyucikan diri
manusia dan menghapus semua diosanya. Mereka memuja banyak dwa(Polytheisme).
Sementara itu, agama Budha lahir sebagai
bentuk reaksi beberapa golongan atas
dasar ajaran kaum Brahmana. Golongan ini
di pimpin oleh Siddharta Gautama. Ia adalah seorang putra mahkota klerajaan
Kapilawastu yang meninggalkan hidup penuh kemewahan dengan menempuh jalan
kesederhanaan untuk menghindari penderitaan. Sekian sekian lama pencarian dgn
jalan beretapa,ankirnya Siddarta mendapat sinar terang menjadi sang Budha yang
berati ”yang di sinari”. Lambat laun agama Budha mulai diterima di masyarakat
India dan menyerbar ke berbagai belahan dunia. Bahkan dalam perkembangan
selanjutnya, kedua agama atau budaya ini
mempunyai pengaruh cukup besar dalam perkembangan sejarah dan budaya Indonesia
di masa awal.
Pada dasarnya peradaban dan kehidupan bangsa
Hindu telah tercantum dalam kitab suci Weda (Weda berarti pengetahuan), juga
dalam kitab Brahmana dari Upanisad. Ketiga kitab itu menjadi dasar kehidupan
orang-orang Hindu.
Kitab suci Weda merupakan kumpulan dari hasil pemikiran para pendeta (Resi). Pemikiran-pemikiran para pendeta (Resi) itu dibukukan oleh Resi Wiyasa.
Empat bagian Kitab Weda
Kitab suci Weda merupakan kumpulan dari hasil pemikiran para pendeta (Resi). Pemikiran-pemikiran para pendeta (Resi) itu dibukukan oleh Resi Wiyasa.
Empat bagian Kitab Weda
· Reg-Weda, berisi syair-syair
pemujaan kepada dewa-dewa.
· Sama-Weda, memuat nyanyian-nyanyian yang dipergunakan untuk memuja dewa-dewa.
· Yayur-Weda, memuat bacaan-bacaan yang diperlukan untuk keselamatan.
· Atharwa-Weda, memuat ilmu sihir untuk menghilangkan marabahaya.
· Sama-Weda, memuat nyanyian-nyanyian yang dipergunakan untuk memuja dewa-dewa.
· Yayur-Weda, memuat bacaan-bacaan yang diperlukan untuk keselamatan.
· Atharwa-Weda, memuat ilmu sihir untuk menghilangkan marabahaya.
Keempat buku itu ditulis pada tahun 550 SM dalam
bahasa Sansekerta.
Ajaran agama Hindu memuja banyak dewa (polytheisme). Dewa utama yang dipuja dalam agama Hindu adalah Dewa Brahma sebagai pencipta, Dewa Wisnu sebagai pemelihara atau pelindung, Dewa Siwa sebaga pelebur (pembinasa/penghancur). Di samping itu, juga dipuja dewa-dewa seperti Dewi Saraswati (Dewi Kesenian), Dewi Sri (Dewi Kesuburan), Dewa Baruna (Dewa Laut), Dewa Bayu (Dewa Angin), Dewa Agni (Dewa Api), dan lain-lain.
Ajaran agama Hindu memuja banyak dewa (polytheisme). Dewa utama yang dipuja dalam agama Hindu adalah Dewa Brahma sebagai pencipta, Dewa Wisnu sebagai pemelihara atau pelindung, Dewa Siwa sebaga pelebur (pembinasa/penghancur). Di samping itu, juga dipuja dewa-dewa seperti Dewi Saraswati (Dewi Kesenian), Dewi Sri (Dewi Kesuburan), Dewa Baruna (Dewa Laut), Dewa Bayu (Dewa Angin), Dewa Agni (Dewa Api), dan lain-lain.
Umat Hindu yang ada di India berjiarah ke
tempat-tempat suci seperti kota Benares, yaitu sebuah kota yang dianggap
sebagai tempat bersemayamnya Dewa Siwa.
Sungai Gangga juga dianggap keramat dan suci oleh umat Hindu. Menurut kepercayaan umat Hindu India, “air Sungai Gangga” dapat menyucikan diri manusia dan menghapus segala dosa.
Agama Budha muncul ketika beberapa golongan menolak dan menentang pendapat kaum Brahmana. Golongan ini dipimpin oleh Sidharta Gautama (531 SM).
Sungai Gangga juga dianggap keramat dan suci oleh umat Hindu. Menurut kepercayaan umat Hindu India, “air Sungai Gangga” dapat menyucikan diri manusia dan menghapus segala dosa.
Agama Budha muncul ketika beberapa golongan menolak dan menentang pendapat kaum Brahmana. Golongan ini dipimpin oleh Sidharta Gautama (531 SM).
Sidharta Gautama adalah putera mahkota dari
kerajaan Kapilawastu (Suku Sakia). Ia termasuk kasta Ksatria. Setelah kurang
lebih tujuh tahun mengalami berbagai cobaan berat, penyesalan dan penderitaan,
akhirnya ia mendapatkan sinar terang di hati sanubarinya dan menjadilah
Sidharta Gautama Sang Budha (artinya Yang Disinari).
Pertama kali Sang Budha berkotbah di Taman Rusa (Benares). Agama Budha tidak mengakui kesucian kitab-kitab Weda dan tidak mengakui aturan pembagian kasta di dalam masyarakat. Oleh karena itu ajaran agama Budha sangat menarik bagi golongan kasta rendah. Kitab suci agama Budha bernama Tripitaka (Tipitaka).
Pertama kali Sang Budha berkotbah di Taman Rusa (Benares). Agama Budha tidak mengakui kesucian kitab-kitab Weda dan tidak mengakui aturan pembagian kasta di dalam masyarakat. Oleh karena itu ajaran agama Budha sangat menarik bagi golongan kasta rendah. Kitab suci agama Budha bernama Tripitaka (Tipitaka).
b. Pemerintahan
Perkembang sistem pemerintaha di lembah
sungai Gangga merupakan kelanjutan dari sistem pemerintahan masyarakat di
daerah lembah sungai Shindu. Sejak runtuhnya kerajaan Maurya, keadaan menjadi kacau
akibat terjadi peperangan antara kerajaan-kerajaan kecilyang ingin bwerkuasa.
Kerajaan ini bareu dapat di aman kan kembali setelah munculnya kerajaan Gupta.
v
Kerajuaan Gupta
Didirakan oleh Raja Canda Gupta I (320-330
M) dengan pusatnya di lembah sungai Gangga. Pada masa pemerintahan raja Candra
Gupta I, agam Hindu di jadikan agama negara, tetapi agam Budha tetap daopat
berkembamng.
Keraqjaan Gupta mencapai masa yangf paling
gemilang ketika raja Samudra Gupta (cucu Canra Gupta I)berkuasa. Seluruh lembah
sungai gangga dan Lembah Sungai Shindu berhasil di kuasainya. Ia menetapkan
kota Ayodhia sebagai ibu kota kerajaannya.
Raja Samudra Gupta di gantikan oleh
anaknya yang bernama Canra Gupta II (375-415). Canra Gupta II terkenal sebagai
wikramaditya seperti raja Gupta lainnya,ia beragama hindu. Namun , ia tidak
memandang rendah dan ditak mempersulit agama Budha. Bahkan pada zama
pemerintahannya berdiri Universitas Gupta sebagai perguruan tinggi agam Budha
di Nalanda .
Dibawah pemerintahan canda Gupta II kehidupan
rakyat makmur dan sejahtera, banyak gedung indah didirikan. Perdagangan dan
pelayaran makin maju. Kesenian , ilmu pengetahuan, dan pendidikan berkembang
pesat. Kesusasteraan mengalami masa yang gemilang, bahkan pada zaman ini
terkenal seorang pujangga yang bernama Kalidasa dengan karangan berjudul
”SYAKUNTALA. Perkembvangan seni pahat dan seni patung mencapai kemajuan yang
pesata, sehingga pahatan-pahatan dan patung-patung terkenal menghiasi kuil-kuil
di SYANTA.
Setelah meninggalnya raja Candra Gupta II,
kerajaan Gupta mulai mundur. Hanpir 2 abad, India mengalami masa kegelapan dan
baru pada abad ke-7 tampil seorang raja kuat yang bernama Harsha Wardana.
v
Kerajaan Karsha
Ibu kota kerajaan Harsha adalah Kanay.
Salah seorang rajanya , yaitu Harsha Wardana adalah seorang pujangga besar .
pada zamannya kesusastraan dan pendidikan berkembang pesat pujangga yang
terkenal poada masa kekuasaanmya bernama Puyjangga Bana dengan buku karanganyna
yang berjudul Hasha Carita.
Pada mulanya raja Harsha memeluk agama Hindu,
tepapi kemudian memeluk agama Budha. Wihara dan Stupa banyak di bangun di tepi
sungai Gangga, juga tewmpat-tempat penginapan dan rumah-rumah sakit didirikan
untuk memberikan pertolongan dengan Cuma-Cuma. Candi-candi yang rusak di
perbaiki, bahkan candi-cadi baru di bangun.
Setelah masa pemerintahan raja Hasha Wardana
hingga abad ke 11 M tidak pernah di ketahui adanya raja_yang berkuasa. India
mengalami masa kegelapan.
c. bentuk kebudayanya lembah saungai Gangga
Perkembangan kebudayaan masyarakat lembah
Sungai Gangga mengalami banyuak kemajuan pada bidang kesenian. Kesusastraan,
seni pahat dan seni patung berkembang pesat.
Kuil-kuil yang indah dari Syanta di bangun.
Daerah-daerah yang di duduki oleh bangsa
Indo-Arya sering di sebut dengan Arya Varta ( negri bangsa Arya) atau Hindu
Stan (tanah milik bangsa Hindu). Bangsa Daravida mengungsi ke daerah selatan,
kebudayannya dikenal dengan nama kebudayaan Dravida.
Di Lembah Sungai Gangga inilah kebudayaan Hindu berkembang,
baik di wilayah India maupun di luar India. Masyarakat Hindu memuja banyak dewa
(Politeisme). Dewa-dewa tersebut, antara lain, Dewa Bayu (Dewa Angin), Dewa
Baruna (Dewa Laut), Dewa Agni (Dewa Api), dan lain sebagainya. Dalam agama
Hindu dikenal dengan sistem kasta, yaitu pembagian kelas sosial berdasarkan
warna dan kewajiban sosial. Dalam perkembangan selanjutnya, sistem kasta inilah
yang menyebabkan munculnya agama Buddha. Hal ini dipelopori oleh Sidharta
Gautama.
Agama Buddha mulai menyebar ke masyarakat India setelah
Sidharta Gautama mencapai tahap menjadi Sang Buddha. Agama Buddha terbagi
menjadi dua aliran, yaitu Buddha Mahayana dan Buddha Hinayana. Peradaban Sungai
Gangga meninggalkan beberapa bentuk kebudayaan yang tinggi seperti kesusastraan,
seni pahat, dan seni patung. Peradaban dari lembah sungai ini kemudian menyebar
ke daerah-daerah lain di Asia termasuk di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
T’ung-tsu Ch’ii,
Han Social Structure. Seattle:University of Washington Press, 1967.
Artikel : State anad Society
“Sejarah Permulaan Cina”, http:/www.Asiamaya.com/ (dl:2 Maret 2008), 1hlm
“China Zaman Silam”, http:/media.cla.auburn.edu/history/gs/descriptions/ 7400.htm. (dl: 2 Maret 2008). 1 hlm
Artikel : State anad Society
“Sejarah Permulaan Cina”, http:/www.Asiamaya.com/ (dl:2 Maret 2008), 1hlm
“China Zaman Silam”, http:/media.cla.auburn.edu/history/gs/descriptions/ 7400.htm. (dl: 2 Maret 2008). 1 hlm
http://kumpulan-tugas-sekolahku.blogspot.com/2012/03/sejarah-peradaban-cina-kuno.html
http://makalahku-chandras.blogspot.com/2011/04/peradaban-lembah-sungai-shindu-dan.html
id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Cina#Dinasti_Xia_.282100_SM-1600_SM.29
Drs.Badrika, I,WayanM.si sejarah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar